Produk · 26 Agustus 2026

Juga diterbitkan dalam Italiano, Русский

Pemimpin Masa Depan Harus Fokus pada Kolaborasi dan Adaptasi, Bukan Kontrol Penuh

a long row of mail boxes sitting next to each other
Jinsoo Choi / Unsplash

Kepemimpinan modern menuntut pergeseran dari model pengambilan keputusan terpusat menuju kolaborasi yang lebih fleksibel. Menurut Anna Månsson, pakar strategi dan kepemimpinan yang telah berpengalaman selama lebih dari 20 tahun di berbagai wilayah, termasuk Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, hierarki yang kaku tidak lagi efektif di tengah perubahan teknologi yang cepat.

Månsson menekankan bahwa pemimpin masa kini perlu menyadari keterbatasan diri dan membangun tim yang tepat untuk mengisi celah tersebut. "Pemimpin masa depan tidak mencoba menjadi yang terbaik dalam segala hal. Mereka mengenal kelebihan dan kelemahan diri, serta mengumpulkan orang-orang yang tepat untuk menangani sisanya," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kepemimpinan di masa ketidakpastian membutuhkan kemampuan untuk tetap tenang dan mengambil keputusan yang matang, bukan bereaksi secara impulsif.

Menurut Månsson, kunci keberhasilan terletak pada kemampuan untuk "menggas" dengan cepat tanpa kehilangan arah. Ia menyebut konsep ini sebagai "centrering", yaitu jeda singkat antara peristiwa dan reaksi untuk memastikan tindakan yang diambil sudah mempertimbangkan tujuan dan dampak terhadap orang-orang di sekitar.

Penerapan AI dalam organisasi juga dinilai sebagai tantangan utama bagi para pemimpin. Månsson menyatakan bahwa AI bukan sekadar isu teknologi, melainkan masalah kepemimpinan. "Banyak perusahaan yang masih memperlakukan AI sebagai urusan teknologi dan menyerahkannya kepada departemen TI. Padahal, AI adalah soal kepemimpinan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa perusahaan yang berhasil mengintegrasikan AI dengan baik adalah mereka yang mampu menggabungkan teknologi dengan pertimbangan manusia serta mendorong keterlibatan seluruh organisasi. "Hanya 20–30 persen nilai AI terletak pada teknologinya. Sisanya ditentukan oleh bagaimana AI diimplementasikan dalam operasional," tambahnya.

Sebuah survei dari Bain menunjukkan bahwa 80 persen CEO merasa tidak puas dengan hasil investasi AI yang telah dilakukan. Månsson menyarankan agar para pemimpin mengalokasikan waktu secara rutin untuk terlibat langsung dengan AI. "Perusahaan yang bergerak paling cepat biasanya adalah mereka di mana CEO menghabiskan setidaknya 20 persen waktunya untuk isu AI. Keterlibatan langsung ini memudahkan pemimpin untuk melihat nilai nyata yang dapat diciptakan teknologi," ujarnya.

Menurut Dagens Industri, artikel ini diproduksi oleh Brand Studio bekerja sama dengan Bain & Company dan bukan merupakan artikel jurnalistik dari redaksi.