Produk · 1 September 2026
Juga diterbitkan dalam Türkçe, 한국어, 日本語, हिन्दी
Nigeria: Transmisi televisi lokal terhenti seusai rentetan tembakan dan ledakan di Niamey
Transmisi televisi stasiun lokal Télé Sahel di Niger terhenti pada pagi hari setelah rentetan tembakan dan ledakan terdengar sepanjang malam di ibu kota Niamey. Warga setempat yang dikutip oleh kantor berita AFP menyebutkan bahwa layar hitam menggantikan program reguler pada pukul 09.00 waktu setempat.
Ledakan dan tembakan terdengar di berbagai wilayah Niamey, termasuk di sekitar bandara ibu kota dan pusat kota, khususnya di dekat istana kepresidenan. Radio France Internationale melaporkan bahwa penyebab kejadian belum diketahui dan tidak ada pernyataan resmi dari pihak berwenang. Sementara itu, sejumlah barak militer di kota tersebut berada dalam status siaga maksimal.
Menurut sumber yang diwawancarai AFP, aktivitas tembakan dan ledakan tercatat di Pangkalan 101 Niamey. Laporan serupa juga beredar di media sosial, dengan video yang menunjukkan kendaraan lapis baja dikerahkan di sekitar bandara dan kawasan istana kepresidenan serta gedung televisi. AFP menambahkan bahwa laporan tersebut telah dikonfirmasi oleh sejumlah saksi.
Bandara Niamey sebelumnya menjadi sasaran serangan kelompok bersenjata pada Januari dan akhir Juni tahun ini. Pada Januari, serangan oleh kelompok ISIS berhasil dipukul mundur oleh militer. Pada Juni, serangan oleh kelompok JNIM mengakibatkan korban jiwa sebanyak dua warga sipil dan 11 tentara. Saat itu, Jenderal Abdourahamane Tiani menyebut adanya "kelemahan dalam sistem keamanan".
Menurut video yang diunggah seorang jurnalis lokal, tembakan pertama terdengar sekitar pukul 01.00 dini hari dan berlanjut hingga fajar. Seorang warga di kawasan Koira Kano, bagian lain ibu kota, melaporkan mendengar tembakan sekitar pukul 05.00. Sementara itu, sumber yang dekat dengan pemerintah menyebut situasi saat ini "terkendali".
Pangkalan 101, yang terletak di dalam kompleks bandara internasional, menjadi markas bagi pasukan Afrika Corps serta pusat komando gabungan militer Aliansi Negara-negara Sahel, yang terdiri dari Niger, Burkina Faso, dan Mali.
Dilaporkan oleh StartupBusiness.