Produk · 7 Oktober 2026
Juga diterbitkan dalam Português (Brasil), English
Levi’s dan Perusahaan Mode Lainnya Luncurkan Program Perbaikan Pakaian untuk Konsumen
Levi Strauss & Co. meluncurkan program "Levi’s Wear Longer Project" pada 2026 yang mengajarkan siswa SMA dan generasi muda cara memperbaiki serta mengubah pakaian bekas. Program ini mencakup workshop gratis di toko-toko Levi’s di seluruh dunia, termasuk di San Francisco, Amerika Serikat, tempat para siswa belajar teknik dasar seperti menambal lubang, mengganti kancing, dan memperbaiki robekan. Menurut survei yang dilakukan perusahaan pada 2025, 35% generasi Z di Amerika Serikat menyatakan akan memakai pakaian lebih lama jika mereka memahami cara memperbaikinya, meskipun 41% di antara mereka tidak memiliki keterampilan dasar perbaikan pakaian.
Perusahaan mode lain seperti Uniqlo, Primark, dan Zara juga mengadopsi strategi serupa. Uniqlo meluncurkan layanan "RE.UNIQLO STUDIO" pada 2022, yang menawarkan perbaikan pakaian seharga 500 yen hingga 1.000 yen, serta layanan remake dengan teknik "sashiko" tradisional Jepang. Primark mengadakan lebih dari 730 workshop "Love It For Longer" di 9 negara, sementara Zara menawarkan layanan perbaikan kancing seharga 3,5 dolar AS, penggantian resleting seharga 20 dolar AS, dan perbaikan kecil seharga 12 dolar AS di Amerika Serikat.
Menurut Neil Saunders, analis ritel dari GlobalData, konsumen generasi muda tidak hanya memperbaiki pakaian demi lingkungan, tetapi juga untuk menghemat uang, mengekspresikan diri, dan memanfaatkan pakaian bekas. Perusahaan seperti Levi’s dan Uniqlo mengubah toko-toko mereka menjadi tempat layanan perbaikan, sehingga konsumen kembali ke toko bukan hanya untuk membeli pakaian baru, tetapi juga untuk memperbaiki pakaian lama. Saunders menilai layanan ini meningkatkan nilai merek karena menciptakan pengalaman interaktif antara konsumen dan perusahaan.
Meski layanan perbaikan dianggap sebagai langkah berkelanjutan, Yayasan Ellen MacArthur Foundation mengingatkan bahwa produksi pakaian global meningkat dua kali lipat antara 2000 dan 2020, sementara frekuensi pemakaian pakaian turun 36%. Yayasan ini memperkirakan model bisnis sirkular seperti perbaikan, penyewaan, dan remake akan mencapai 70 miliar dolar AS pada 2030, atau 23% dari pasar mode global. Namun, tantangan utama tetap ada: biaya perbaikan lebih tinggi daripada produksi massal pakaian baru, sehingga perlu inovasi untuk membalik struktur ini.
Artikel ini dilaporkan oleh AMP.