Produk · 30 Agustus 2026

Rhine Group diluncurkan untuk selamatkan inovasi Eropa, tapi Polandia tak terwakili

a group of people sitting around a laptop computer
Fatemeh Rezvani / Unsplash

Sebuah kelompok bernama Rhine Group resmi diluncurkan pada 24 Agustus 2026 untuk mendorong reformasi kebijakan dan ekonomi Eropa guna meningkatkan daya saing inovasi di kawasan tersebut.

Inisiatif ini muncul di tengah kekhawatiran yang semakin besar mengenai keterbelakangan Eropa dalam menciptakan perusahaan-perusahaan teknologi global. Meskipun Eropa memiliki banyak insinyur dan peneliti unggul serta menghasilkan riset-riset inovatif, kawasan ini hanya memiliki empat perusahaan teknologi terbesar di antara 50 perusahaan terbesar dunia. Laporan Draghiego yang diterbitkan pada 2024 menekankan perlunya investasi besar-besaran sebesar 750 miliar euro per tahun untuk bidang energi, teknologi, dan pertahanan. Jumlah ini disebut-sebut setara dengan skala rencana Marshall dalam sejarah.

Rhine Group terdiri dari 55 pemimpin bisnis, pengusaha, ekonom, akademisi, dan mantan politisi. Mereka dipimpin oleh Mario Draghi, mantan Presiden Bank Sentral Eropa, dan Patrick Collison, salah satu pendiri serta CEO Stripe. Pertemuan resmi pertama kelompok ini dijadwalkan berlangsung pada 20 hingga 23 September 2026.

Di antara para anggota pendiri Rhine Group terdapat sejumlah tokoh terkemuka di bidang teknologi dan modal ventura Eropa. Beberapa di antaranya adalah Niklas Zennström (CEO dan mitra pengelola Atomico), Bastian Nominacher (ko-pendiri dan ko-presiden Celonis), Hélène Huby (pendiri dan CEO The Exploration Company), Luca Ferrari (ko-pendiri dan CEO Bending Spoons), Sebastian Siemiatkowski (ko-pendiri dan CEO Klarna), Xavier Niel (ketua dan direktur strategi Iliad), serta Jeannette zu Fürstenberg (CEO dan direktur pengelola General Catalyst).

Kelompok ini menekankan bahwa menciptakan perusahaan inovatif saja tidak cukup. Untuk mempertahankan perusahaan-perusahaan tersebut di Eropa, dibutuhkan akses terhadap modal, basis pelanggan, infrastruktur, serta regulasi yang fleksibel. Tanpa dukungan ini, startup unggulan Eropa diprediksi akan pindah ke luar kawasan untuk mengembangkan bisnisnya. Stagnasi ekonomi yang berkepanjangan juga dikhawatirkan akan melemahkan kemampuan negara-negara Eropa dalam mendanai sektor-sektor penting seperti pertahanan, kesehatan publik, sistem pensiun, pendidikan, transformasi iklim, dan keamanan sosial.

Para pendiri Rhine Group juga menyoroti tantangan yang semakin berat akibat persaingan dari Tiongkok, ketergantungan strategis yang meningkat, serta proteksionisme dari Amerika Serikat. Alih-alih terus menerbitkan analisis atas masalah yang sudah diketahui, kelompok ini berfokus pada penerapan reformasi nyata yang dapat mengubah kondisi bisnis di Eropa.

Kritik terhadap kurangnya perwakilan Polandia dan ketidakkonsistenan inisiatif ini juga mencuat. Mayoritas anggota Rhine Group berasal dari Prancis dan Jerman, sementara hanya satu perwakilan dari negara-negara yang bergabung dengan Uni Eropa setelah 2004, yaitu mantan Presiden Estonia Toomas Hendrik Ilves. Polandia, yang memiliki pertumbuhan ekonomi dinamis dan sektor teknologi yang berkembang, tidak memiliki perwakilan sama sekali dalam kelompok tersebut.

Selain itu, Rhine Group dikritik karena kantor pusatnya berada di Swiss, sementara situs resminya menggunakan infrastruktur dari perusahaan Amerika Serikat, Webflow dan Amazon Web Services. Kritik ini menyoroti ironi bahwa inisiatif yang bertujuan memperjuangkan otonomi strategis Eropa justru bergantung pada solusi teknologi luar negeri.

Dilaporkan oleh MamStartup.